15 November sembilan tahun yang lalu, sebuah peristiwa yang sampai saat ini masih begitu melekat di benakku. Saat itu usiaku belum genap 17 tahun…
Aku baru pulang sekolah jam 15.30 WIB, sesampainya di rumah aku berpesan ke ibu untuk dibangunkan jam 18.30 wib karena aku mau les… Ibu hanya menjawab “ya”
Sama sekali aku tak menghiraukan jawaban ibu yang begitu singkat. Aku langsung masuk kamar dan tidur.
Tepat jam 18.30 wib, adik titut (Ratri) membangunkan ku. “Mbak, bangun. Ibu sakit. Ibu pingsan lagi,mbak”
Saat itu aku hanya menjawab “Ahh biarin aja, wong udah biasa koq ibu pingsan. Ntar khan juga sadar lagi”
Sadis banget khan aku menjawab seperti itu??? ![]()
Ya ibu memang lebih sering pingsan sejak bulan agustus di tahun yang sama, eyang putri meninggal. Meskipun ibu bukan putri kandung eyang putri, ibu sejak kecil ga pernah berpisah dengan eyang putri bahkan setelah menikahpun, eyang ikut ibu. Karena ibu jadi putri tunggalnya. Ibu merasa bersalah dengan meninggalnya eyang putri yang saat itu menderita tekanan darah tinggi dan obatnya habis. Karena sudah larut malam, ibu hanya bilang kalau obatnya akan dibeli besok pagi. Dan keesokan paginya, eyang mengeluh kepalanya terasa panas sekali. Saking ga kuatnya, eyang langsung ambil air es tanpa sepengetahuan ibu. Beberapa saat kemudian, eyang pingsan dan akhirnya meninggal. Yah sejak 28 Agustus 1999 itulah ibu menjadi sering pingsan.
Kembali ke cerita ibu.
Aku masih belum beranjak juga dari tempat tidurku.
Seperti disambar gledek, aku dengar bapak berteriak memanggil namaku. Saat itu juga aku lompat dan menghampiri dimana ibu pingsan. Ibu pingsan di ruang keluarga persis di depan kamarku. Saat itu, bapak kebinggungan mencari denyut nadi ibu. Karena berkali-kali sudah tidak menemukan denyut nadi ibu, akhirnya aku lari mencari pinjeman mobil ke tetangga, kebetulan saat itu mobil bapak di pakai pakde (kakak sepupu ibu, Pakde Bambang).
Begitu aku keluar rumah, hanya ada satu mobil yang di parkir di luar itu sama aja pertanda kebanyak pada belum pulang. Lumayan dari rumahku cukup jauh ya selisih 10 rumah. Aku ketok rumah pemilik mobil itu.
“Pak boleh saya pinjam mobilnya untuk antar ibu ke rumah sakit. Ibu pingsan.” Kataku saat itu.
“Ohhh ya,mbak Reti. Yang nyetir siapa?”
“Bapak & dik Radix yang akan bawa ibu ke rumah sakit.”
Dengan penuh keberanian, aku kendarai mobil itu dengan satu tangan. Karena bulan Juli di tahun yang sama juga, aku mengalami kecelakaan sepeda motor dan akhirnya kedua tulang di tangan kiriku patah. Sampainya di rumah, Ibu langsung di gotong masuk di mobil. Ditemani radix, pembantu rumah tangga kami (namanya Asih) & salah satu tetanggaku yang udah deket banget ma ibu yang udah anggap ibuku sebagai kakak,sahabat & ibunya. Ninik namanya.
Ibu tidur dipangkuan mbak Ninik. Dengan setianya, si Asih memijat - mijat kaki ibu dengan berbekal minyak tawon.
Setelah Ibu dibawa ke rumah sakit
Di rumah tinggal, aku, dik Ratri, kakak tertua bapak (Pakde Wied) & mbok Sami (pembantu rumah tangga yang sudah cukup lama tinggal bersama kami). Saat itu aku ga punya pikiran apa - apa akan kondisi ibu.
45 menit kemudian, telpon rumah berdering. Mbak Ninik menelpon dari handphone bapak. Supaya aku dan dik Ratri segera ke rumah sakit. Karena memang sedang tak ada mobil, aku telpon pacarku saat itu (Mas Rino), paling tidak dia bisa antarkan aku ke rumah sakit dengan sepeda motor. Di saat menunggu mas Rino yang kebetulan rumahnya ga jauh dari rumahku hanya beda gang, pakde Bambang yang membawa mobil datang, kuurungkan niatku pergi dengan mas Rino karena memang saat itu aku kadang masih trauma dengan kecelakaan yang menimpaku.
Aku, dik Ratri & Pakde Bambang segera ke rumah sakit. Perjalanan kami memakan waktu 20 menit. Sesampainya di rumah sakit, aku & dik Ratri segera menuju UGD. Di sana aku langsung bertemu dengan mbak Ninik yang matanya bengkak karena menangis & bilang bahwa Radix pingsan. Dan Asih yang juga menangis berada di samping Radix sambil pijat - pijat kaki radix.
“Dimana ibu?” Tanyaku saat itu.
Mbak Ninik mengantarku ke tempat ibu. Begitu masuk aku melihat seseorang di atas tempat tidur yang di tutup selimut bergaris khas rumah sakit. Saat itu aku ga begitu peduli dengan yang di atas tempat tidur itu.
“Mana ibu???”
“Wuk, itu ibu” Kata bapak sambil menunjuk ke tempat tidur itu.
Pelan - pelan aku menuju tempat tidur itu sambil mencoba meraba tangan kiriku dan mencoba untuk mencubitnya…. Bahwa saat itu aku ga sedang bermimpi buruk…. ![]()
Langkahku semakin mendekati tempat tidur itu dan pelan - pelan ku buka selimut itu….. ![]()
Aku melihat wajah ibu yang begitu tampak lebih muda dari umurnya yang ke 39, dengan senyum khasnya. Seakan berkata kepadaku, “jangan tangisi kepergian ibu,wuk”
Tapi aku ga bisa…….. Tangisku memecahkan keheningan di ruang itu yang terasa begitu mencekam……
Setengah berlari aku hampiri bapak. Aku peluk dengan erat bapak.
Aku penuhi janjiku pada bapak
“Aku siap urus semua keperluan pemakaman ibu,pak. Seperti janjiku 79 hari yang lalu ke bapak bahwa aku siap bantu bapak dalam segala hal”
79 hari sebelum ibu ga ada, hari kedua meninggalnya eyang putri. Bapak bertanya kepadaku, apakah aku siap jika suatu saat tinggal bapak,aku & adik2? Apakah aku siap bantu bapak dalam segala hal? Dengan tegas aku menjawab, “AKU SIAP,pak”
“Kenapa bapak dipegangin pakde Suhar (kakak ipar bapak)?
“Gpp, bapakmu hanya kaget aja trus lumpuh separuh” kata pakde saat itu.
Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini………..
Secepatnya aku keluar dari rumah sakit, diantar pakde Bambang ke Gereja & bertemu dengan Romo Lambert. Beberapa bulan belakangan, ibu begitu dekat seorang Romo di Gereja Katedral Surabaya. Sesampainya di sana aku mengabarkan berita duka ini dan memohonnya untuk memimpin doa bagi ibu. Beliau menyanggupi tapi belum bisa berangkat bersama aku dan pakde saat itu. Karena Romo Lambert masih ada tamu.
AKu dan pakde segera kembali ke rumah sakit lagi untuk mengurus kepulangan ibu. Sesampainya aku di rumah sakit, mobil jenasah sudah siap di depan pintu UGD dan aku melihat beberapa teman karang taruna datang. Ya ibu begitu dekat dengan teman - teman karang tarunaku. Diantaranya aku mas Rino yang langsung menghampiriku, lagi - lagi aku ga bisa menahan tangisku. Betapa besar perhatian teman - temanku saat itu.
Dalam perjalanan pulang
Aku kembali ke mobil setelah memastikan urusan rumah sakit selesai dan Ibu bisa pulang. Di mobil ada pakde Bambang, radix, aku & ratri. Bapak,Pakde Suhar, mbak Ninik & Asih di mobil jenasah. Dalam perjalanan itu aku berpesan ke kedua adikku.
“Kita harus iklas,dhek. Ini sudah jalannya, ibu pulang. Jangan hambat jalan ibu menuju ke rumah Bapa. Bersama - sama kita jalani hidup ini ya. Kita ringankan beban bapak sebagai orang tua tunggal. Jangan lagi bersikap semaunya ya.”
Samar aku dengar kata YA dari kedua adikku. Sesaat kemudian suasana mobil begitu hening. Mobil kami terus melaju di belakang mobil jenasah. Di belakang mobil kami, mas Rino menggantikan bapak nyetir mobil yang tadi kami pinjam.
Sesampainya di rumah aku sudah melihat begitu banyak orang yang menanti kepulangan ibu. Mas Rino langsung menjemputku, pelan - pelan aku turun dari mobil, badanku terasa agak lemas, seakan ada beban berat yang kupikul dan tiba - tiba gelap …………
Aku terbangun & kaget …..
Entah berapa lama aku pingsan. Samar aku dengar begitu banyak yang menyebut namaku…
“Ret, sadar…. sadar,ret.”
“Mbak Reti, Ayo bangun….”
“Wuk, ayo wuk bangun….”
“Dhek,ayo donk bangun….”
“Sayang, bangun donk… kasihan ibu kalo kamu begini, kasihan bapak & adik-adik tuch”
Suara terakhir yang ku dengar begitu jelas dari mas Rino yang berada di sebelah kananku. Di sebelah kiriku, ada bude Emmy (kakak sepupu ibu). Kupeluk erat bude Emmy saat itu yang memang kadang mirip sekali dengan ibuku. Seakan - akan dari aku merasakan pelukan kasih dari ibu.
“Sudah,ret. Ibumu sudah tenang. Jangan tangisi kepergianya. Kamu harus bisa bangun sebentar lagi ibu harus dimandikan.”
“Ya bude, aku janji. Aku kuat.”
Dituntun mas Rino, aku berjalan melewati ibu - ibu yang datang melayat menuju ruang tamu dimana ibuku disemayamkan. Sambil aku mencari - cari dimana kedua adikku berada. Kulihat mereka berdua berpelukan di pojok ruang tamu. Kupeluk mereka berdua sambil meminta maaf karena aku pingsan dan ku ajak mereka untuk memandikan ibu.
Di teras aku melihat bapak dikerumin beberapa orang yang coba membantu untuk berdiri tapi tak berhasil.
Entah kekuatan dari mana yang diperoleh bapak, setika itu tiba - tiba bapak bisa berdiri lagi. Seakan - akan tidak mengalami apa - apa. Dengan bimbingan bapak, kami bertiga memandikan ibu. Kudengar bapak berkata ke ibu
” Bu, aku dan anak - anak sudah ikhlas kamu pulang ke Bapa. Kamu juga harus ikhlas ya biar jalanmu lapang dan Bapa menerimamu. Jangan pernah datangin anak - anakmu ya, kamu boleh datang ke aku jika aku memintanya.”
Senyum ibu terus mengembang dengan semakin banyaknya orang yang datang melayat
Kuperhatikan perubahan wajah ibu setiap saat, semakin banyak pelayat yang berdoa bagi ibu, senyumnya bertambah berkembang dan wajahnya tampak makin muda.
Kembali aku membuka kenangan ini, karena kemarin adalah peringatan 9 tahun meninggalnya ibu. Aku coba tidak lagi menangis karena sekarang ibu sudah bahagia di alam sana.
“Ya Tuhan, ampuni segala dosa ibuku semasa hidupnya….”
“ya Tuhan berikanlah aku kesempatan untuk menjadi seorang istri & ibu yang baik bagi suami dan anak - anakku kelak. Berikanlah aku kesehatan & umur panjang supaya aku bisa terus berada di samping suamiku dan anak-anakku. Jangan ambil aku di saat suami dan anak - anakku masih membutuhkanku. Amien ”







Saya turut berduka mbak Retie, Siklus kehidupan demikianlah adanya ada yang datang dan ada yang pergi. Tanggal 15 November juga merupakan hari Ulang Tahun Almarhum Ayah saya, dan juga hari kepindahan saya ke US. Tanggal 15 November bermakna sangat banyak untuk saya pribadi. Susah dan juga Gembira.
Saya yakin Ibunda mbak Retie sudah berada ditempat terbaik disisiNYA dan Semoga mbak Retie dan keluarga senantiasa dalam LindunganNYA. thanks
Entah, Ret..
aku justru tersenyum membaca ini…
…karena aku tahu. Ibu kamu… sangat beruntung telah memiliki anak yang bisa dibanggakan seperti kamu… Beliau berpulang karena dia percaya, kamu akan menjadi perempuan yang hebat, terutama untuk Bapak dan adik-adikmu….
Mungkin sekarang Ibu dan Mami sedang arisan di atas sana…
Kira-kira, mereka sedang ngobrolin apa, ya, Ret?
ahhh
usia 39 tahun masih muda ya…
dan Reti sudah bisa begitu tegar.
hebat
Reti sekarang yang harus bisa jaga kesehatan
apalagi sedang hamil
tekanan darah rendah dan kurang HB ya
kalau bisa…periksa apakah ada thalassemia juga ngga
aku juga kurang HB dan ternyata ada thalassemia
kalau sudah tahu, jadi bisa antisipasi waktu melahirkan
(Thalassemia ngga boleh transfusi darah soalnya)
jaga kesehatan ya dik
salam saya
EM