Kembali aku posting ceritaku yang pernah dimuat di majalah CITA CINTA tahun 2007. Dengan tujuan aku ingin mengenang alm Ibu sekaligus aku ingin bersyukur karena telah memiliki ibu baru yaitu Umi.
KASIH IBU (Baru)
Delapan tahun lalu, ibu kandungku meninggal karena pembuluh darah di otak pecah. Pada saat itu usiaku baru 16 tahun. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ibuku masih hidup, aku tumbuh jadi gadis yang tidak pernah turut campur pekerjaan rumah tangga. Yang aku tahu hanya makan, tidur dan sekolah.
Setahun setelah ibuku meninggal, pembantu rumah tangga yang sudah bertahun – tahun bekerja pada keluargaku harus pulang kampung. Semua kerumitan berawal sejak itu. Aku tidak pernah tahu bagaimana cara masak nasi, Yang aku tahu hanya masak mie instan dan goreng telur hanya untuk diriku sendiri. Urusan dapur harus kini harus jadi tanggung jawabku karena kedua adik masih kecil. Ayahku juga mulai membagi masalah keuangan rumah tangga karena dulu ibulah yang mengurusinya.
Ketika aku berusia 17 tahun, semua urusan rumah tangga harus aku pegang. Di saat teman – teman bersenang – senang pulang sekolah, aku harus segera pulang dan masak nasi untuk makan siang bersama kedua adikku.
Aku harus melalui masa – masa sulit seorang diri, menempuh ujian akhir SMA pun aku hadapi sendiri. Teman – temanku bisa bercerita kalau saat mereka berangkat ujian, mama mereka membuat roti bakar dan menemani mereka belajar. Sedangkan aku…?
Ternyata Tuhan sangat mencintaiku, Tuhan lindungi dan kuatkan aku. Aku lulus walaupun tidak masuk peringat. Itu pun sudah membuat ayahku bangga.
Enam tahun berlalu, ayahku masih tetap hidup seorang diri. Tapi bulan Mei dua tahun lalu, tiba – tiba ayah memperkenalkan seorang wanita yang usianya 20 tahun lebih muda dari ayahku dan pantas jadi kakakku. Ayah memutuskan untuk menikah lagi. Kami bertiga sempat protes dan tidak menerima kenyataan ini. Kami menghadiri acara pernikahan setengah hati dan menangis kecewa.
Satu minggu kemudian, ayah mengajak kami bertiga berlibur ke daerah Batu, Malang. Di sana ayah mencoba memberikan pengertian kepada kami bertiga, dan dari liburan tersebut muncul sebutan untuk istri ayah, “umi”. Umi tidak hanya sebagai ibu tapi juga kakak bagi kami bertiga. Beberapa bulan berlalu, ternyata kami mulai mencintai umi. Begitu juga dengan umi, apalagi saat adikku sakit demam berdarah. Siang-malam umi menjaga adikku sampai – sampai umi hampir sakit karena tidak bisa tidur. Akupun kembali merasakan kasih ibu yang sempat hilang bila setiap malam umi masuk ke kamarku dan membetulkan selimutku serta mencium keningku.
Aku kembali merasakan kenangan terindah dalam hidupku, saat tahun lalu kami sekeluarga mengadakan perjalanan liburan keliling Jawa – Bali. Dalam perjalanan itu, kami pun semakin mengenal kepribadian umi. Acara bakar ikan di pinggir pantai jadi acara paling seru.
Saat ini usiaku hampir 25 tahun, aku sudah mendapat banyak ilmu tentang rumah tangga dan sedang menanti hari bahagiaku di pelaminan. Walau cintaku pada ibu kandungku akan terus ada, ternyata aku bisa berbagi dan mendapat kasih dari ibu baruku…







Retie …
Ini postingan simple …
But …
Sangat menyentuh …
Saya suka tulisan ini …
Perjuangan Retie muda mengelola hidup walaupun tanpa Ibu … dan juga perjuangan Retie muda untuk menerima sorang lain di dalam keluarga …
Salam untuk semua …
Semoga bahagia selamanya …
NH18
Cerita yg sangat menyentuh. Perjuangan masa kecil saya juga lumayan berat sebagai anak tertua dari 7 bersaudara. Tapi syukurlah waktu itu dan sampai sekarang orang-tua saya masih lengkap menemani kami.
Mudah-mudahan cerita semacam ini bisa jadi pelajaran bagi kita, bahwa hidup memang merupakan perjuangan.
Salam.
indahnya memiliki ibu
indahnya ibu
Ibu kandung memang tidak akan pernah tergantikan dalam hati dan ingatan. Tetapi jika Ibu tiri juga baik dan penuh kasih, pasti masih ada sisi ruang hati yang bisa kita tempatkan dia disana. Banyak ibu tiri yang baik, tetapi sudah menjadi steriotape ibu tiri galak atau jahat. Munkin karena cerita Ari Hanggara jama dulu kala itu yang membuat semua hati anak tiri aprirori. Thanks
Setiap dengar kata ibu terkadang saya pengen menangis karena buat saya ibu adalah sosok yang takkan pernah tergantikan dengan apapun, saya mengalamin pahit getirnya beliau serta dukungan beliau sehingga saya seperti ini….
http://bungaliani.wordpress.com/2008/11/07/makasih-ya-bu/
Ibu adalah segalanya di dunia ini
Kebetulan saya kenal Uminya Retie. Sepengetahuan saya, Bu Inung memang wanita yang ramah, pintar dan baik. Saya yakin Umi dan Retie akan menjadi ‘kakak-adik’ sekaligus ‘ibu-anak’ yang saling menyayangi dan saling mengerti. Salam saya untuk Bu Inung (waktu beliau meninggalkan UII, saya pas tugas belajar, jadi kami lama nggak sempat ketemu).
jika aku perlu sesuatu
aku selalu memanggil IBU.
menentuh sekali mba… bikin aku termehek-mehek nich…
kasih ibu memang sepanjang jalan…meskipun kadang kita baru merasakannya setelah jauh dari beliau…
aduh , ceritanya begitu menyentuh….
ya syukur dan ikut senang jika ibu barumu betul2 menyayangi kamu dan adik2mu..
jika yg anda ceritakan itu umi Inung, atau lengkapnya Inung Purwati Saptasari, dari Nitikan Jogja…itu mah temen baik ku…
saya banyak belajar dari nya
saya sering curhat….macam-macam..
waktu pesta pernikahan dg papamu pun aku datang juga…
tp setelah itu aku br merasa kehilangan…
ketika mbak inung pergi dan out dari tempat kerjanya
saya sedih lho…
dia begitu pinter, cerdas dan sangat familier…
jk ada alamat email, chat atau no hp mbak inung yg bs dihubungi tlg kasih tau yaaa..
salam saya dan keluarga untuk umi mu yg baik….
anang susilo
kotagede jogja
jadi rajin memposting ttg ibu nih…
[senyum]
what else can I say…
this post is really beautiful, Ret…
and in an instant, I remember my own story..
Nitikan ??? dekat rumah Bunda lho….
mampir dong mbak Reti, kalau pas ke Jogja.. jalan ke.Rumah Ibu hanya 500 meter dari Jalan Nitikan…
Btw…Alhamdulillah…punya Ibu baru yang baik hati..
speechless…
memang Ibu kandung tak tergantikan
tapi pada saat-saat menjadi seorang ibu,
alangkah senangnya bisa didampingi Umi yang baik hati itu
semoga terus bahagia Reti
EM
subhanallah, Allah tak pernah membebni hambny melebhi kekuatan hamby.
dan smw kejadian pasti ada hikmahny.
smg bermanfaat untk smwny.waslm
Alhamdulillah, mbak Retie. Hidup memang perjuangan dan berproses. Saya kenal baik dan akrab dengan umi Inung waktu di UII, bahkan keluarga saya pun saling kenal dengan keluarga beliau di Nitikan. Beliau sudah saya anggap adik saya, Umi yang pinter masak, luwes, berfikir luas, dsb, dsb,dsb, yang serba pinter.
Umi pun pernah bobok di rumah sewaktu ada acara pelepasan wisuda Arsitektur. Saya sangat cocok dengan pola pikir dik inung (panggilan akrabku), sehingga sewaktu beliau pindah ke Surabaya, kami (keluarga) merasa kehilangan.
Sewaktu mantenan, saya tidak bisa datang karena harus berangkat ke Bandung untuk acara Dikti yang diagendakan satu bulan sebelumnya. Tapi malam sebelumnya saya sempatkan ke Nitikan untuk mengucapkan selamat dan doa atas kejutan pernikahannya,walaupun tidak bertemu sang manten waktu itu. Kami ngobrol sama Bapak Ibu beliau.
Sewaktu mantenan mas Nanang, kami ketemu beliau walaupun tidak sempat ngobrol karena kedatangan kami terlalu malam akibat muter-muter kesasar di daerah seputar Nitikan.
Mbak Retie, titipkan salam keluarga saya pada beliau. Kami (Hastuti, Asyha, dan P Uung) ingin tetap menyambung silaturahmi dengan Umi. Kami juga berdoa buat mbak Retie sekeluarga, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatNya sehingga hubungan “kakak-adik”, atau pun ‘ibu-anak’ terjalin secara harmonis.
Wass.
Hastuti, Ngori Indah, Yogyakarta
terima kasih say, saat ini tante jg menjalani seperti jln ceritamu, tapi anak tante cowok semua….tiga pula, gak semua ibu tiri jahad kan. semoga selalu berbahagian cantix…..piiizzzz