Jan
14

cewekUdah hampir 1 minggu ini Bekasi hujannn terusss…. hatiku juga rada gerimis tapi udah hari Senin kemarin.

Ceritanya, tetangga depan rumahku punya 2 anak cowok. Kelas 4 SD dan 2 SD. Senin sore saat aku lagi nemenin penjual siomay keliling motongi siomay untuk aku tanpa sengaja aku mendengar anak pertama keluarga itu menelpon mamanya.
“mama katanya pulang jam 5. Ini udah mau jam 6!!!” kata si anak
“bla bla bla bla bla bla” kata si mama (aku ga tau apa kata mamanya jadi aku tulis gitu aja dech)
“mama bohong!!! mama emang suka bohong!!! Pokoknya sekarang juga mama harus pulang!!!”

Telpon langsung di tutup, si anak tadi masuk ke dalam rumah dan aku masih mendengar teriakannya.
“ga mauuuu pokoknya aku mau nunggu mama!!!”
Setelah itu aku hanya mendengar suara tangisannya saja.
Dan aku harus segera masuk rumah, siomay udah di tunggu suami tercinta.

Di dalam rumah aku cerita ke suamiku.
“say dengar ga tuch tangisan anaknya pak G?”
“emang kenapa?”
“ya anaknya itu protes karena mama ga pulang tepat waktu”
“Ya maka dari itu kenapa dulu aku benar-benar mutusin untuk bisnis dirumah, kita jadi punya waktu yang banyak untuk anak-anak”
“Yaa juga sich tapi mereka juga bisnis sendiri koq, cuma si Ibu G itu lagi dikejar target karena si ibu G khan ikutan jadi agen sebuah asuransi”
“mmmm” hanya tersisa itu dari suamiku

Singkat,padat tapi ga jelas. Yaaa ga bisa disalahkan juga sich anak minta perhatian ke mamanya. Si ibu juga ga bisa disalahin juga, dia seneng banget dengan menjadi agen dari sebuah asuransi ini.

Malam harinya saat aku mau mengunci pintu pagar, sebuah taksi berhenti di depan Ibu G dan ternyata benar yang turun dari taksi itu bu G.
“Koq baru pulang,bu?” sapaku
“ya nich habis ketemu ma calon client” jawabnya
“ooo gitu”
“Koq kurusan? masih sakit ya?” tanyanya
“udah mendingan koq,cuma lagi rajin aja nich minum MELILEA nya :)
“Wah iya nich karena sibuk aku jadi lupa ga minum MELILEA lagi” sahutnya
“Gpp ntar khan bisa kurus sendiri karena capek :) ” jawabku
“ya nich,mari bu saya masuk dulu udah kebelet pipis ”
“ehhh iya ya bu”

Aku masuk ke dalam rumah dan melirik ke jam dinding, ooo ternyata pukul 22.30.

“sapa koq malam-malam naik taksi?” tanya suamiku.
“Bu G naik taksi baru pulang”
“Sendirian? darimana emang? malam amat”
“Ya sendirian, dari ketemu client” jawabku

Dan aku langsung masuk ke kamar melanjutkan kembali aktivitasku sebelumnya…..

“Ya Tuhan berikanlah kemudahan bagi bu G dalam pekerjaannya supaya di bisa menjadi SUPERMOM, amin”


sexybedlaptop150Hari ini, saat aku buka email dari 5 email yang aku terima, ada salah satu judul yang membuat aku penasaran ingin membukanya pertama kali.

MAHALNYA KARIER WANITA

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami..

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya “Hari ini Mama sakit di Rumah sakit” , hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih.

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti “robot” yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.
Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik.

Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .

Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan “kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas” selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya.
Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi,setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto “keluarga” di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah.

Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren.

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto “keluarga” itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama.

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

Maya menulis :
“Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur……. …
Ya Tuhan ,Maya kangen banget sama bik Inah”

bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali,

seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan “prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya”. Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.

Dan di setiap berdoa saya selalu memohon “YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu”.

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

ihhhhh hatiku jadi gerimis lagi nichhhh……

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
16 Responses
  1. jeunglala says:

    Ret,

    Seorang karyawan di Perusahaan juga tetap bisa menjadi seorang Ibu yang baik, asalkan ketika sampai di rumah, dia benar-benar menjadi Ibu yang menyenangkan, bukan Ibu yang tampangnya lusuh, gampang marah, liat anaknya nangis malah dicubit, liat banyak barang berantakan lantas ngomel-ngomel nggak jelas…. Quantity itu penting, tapi quality itu jauh lebih penting. Kalau ada di rumah terus tapi si Ibu malah sibuk ngerumpi sendiri sama tetangga, bukannya sama aja? Atau bisnis di rumah, tapi lebih sibuk ngurusin bisnis dibandingkan mengganti baju si Anak yang berkeringat, aku rasa tetep sama aja…

    So…
    A little quality time…. that’s what really matter.. :)
    Jadi Supermom?
    Pasti bisa, Ret… You have that quality from the first minute I met you! ^_^

    Ya aunty, dulu semua itu pernah berkecamuk di benakku. Waktu itu aku kerja, dirumah tanpa pembantu, adik2ku terlalu bergantung dengan aku. Aku suka ngomel kalo rumah berantakan,cucian piring ga bersih, lantai kotor dsb Saat itu aku benar-benar membayangkan gimana seandainya besok aku menikah & aku jadi wanita karir seperti impianku.
    Kemudian di bulan pertama-ketiga pernikahanku, dimana teman-temanku yang menikah di bulan yang sama sudah pada hamil, kembali pikiran aneh-aneh itu datang lagi meski aku bisnis dirumah mampukah aku jadi Ibu yang baik. :) benarkah aunty, aku bisa?? Thx ya :P

  2. edratna says:

    Orang kadang hanya melihat satu sisi. Kenyataannya anakku bangga ibunya bekerja, kalau libur dia boleh mengunjungi kantorku, mencoba duduk di kursi yang ada meja besarnya, bermain komputer. Anak juga diperkenalkan tanggung jawab, bahwa ibu bekerja, juga agar bisa membiayai pendidikan mereka. Bahkan si mbakpun seneng aja ditinggal tugas turne (saya bahkan sering turne seminggu dua minggu ke luar kota, bahkan tugas ke luar negeri)…karena si mbak juga tak dilupakan….selalu ada oleh-oleh jika ibu pulang turne. Tetanggapun saling membantu, setelah anak-anak besar, tetangga sering menitipkan anaknya yang masih kecil dirumahku.

    Kalau tak dilatih, anak maunya menuntut, mereka belum paham, dan inginnya ibu dirumah tapi disatu sisi juga ingin uang cukup untuk beli tas sekolah, baju dsb nya (jadi ingat saat saya kecil, ibu pulang telat saya ngambeg, menangis…padahal ibu capek rapat seharian, ibuku Kepala SD…tahu nggak, saya malahan dicubit ibu keras). Syukurlah ibu tak mendengarkan tangisan manjaku, ibu tetap bekerja, andai ibu tak ikut bekerja, saya dan adik-adik belum tentu bisa kuliah sampai S1.

    Justru karena ibu kerja, anak-anak bisa menghargai uang, anak-anakku sejak tk.2 sudah mampu membiayai uang saku bulanan….Dan kenyataannya, temanku sesama pekerja wanita,anak-anaknya juga diterima di PTN, di UI, ITB, UGM dan fakultasnya pun tak main-main.

    Tapi menjadi ibu dan wanita pekerja memang berat tanggung jawabnya, harus bisa membagi waktu, dan waktu yang sedikit harus diusahakan agar selalu bermakna.

    Ya bu, makanya saya begitu ngefans sama Ibu Enny ya walaupun saya belum kenal lama tapi saya melihat Ibu Enny benar-benar sosok Ibu sejati = SUPERMOM

    Mmmm jadi inget dulu sayapun sering bolos sekolah ehh trus ikut alm ibu ke puskesmas, ngeliatin gimana sich ibu kerja melayani pasien, jualin obat :) alm ibu saya dulu asisten apoteker di puskesmas di Surabaya.

  3. edratna says:

    Retie, teman saya, seorang wanita, menjadi Direktur di Bank BUMN besar, sekarang jadi Ketua BSMR (Badan Sertifikasi Manajemen Risiko), juga menjadi Pemimpin Redaksi majalah manajemen risiko. Sering bepergian ke luar negeri. Anaknya dua, putrinya umur 9 tahun sudah ngeblog, putranya sekarang kelas 3 SMA….ga ada masalah kok.
    Baca juga kan postinganku tentang anakku merokok, dan bagaimana tanggapan anakku sendiri? Dia malah berdebat dengan omnya…..walau saya tinggal terus, dia bisa menyelesaikan kuliah di UI, dan adiknya lulusan ITB…

    Yang penting adalah keluarga harmonis, dan komunikasi antara orangtua dan anak lancar.

    Mmmm bu kayaknya saya pengen banget dech ngilmu ma bu Enny :) supaya jadi SUPERMOM.

  4. cenya95 says:

    Komunikasi politik merupakan Saat ini yang terpenting adalah meningkat keperdulian masyarakat terhadap lingkungannya.
    Salam

  5. ada harga mahal bila Qta memilih untuk menjalan sesuatu y bak…ssh bener, aQ bercita-cita bs eksis kerja tapi aQ jg bercita-cita bs menjadi istri yg bertanggung jwb sekaligus ibu yang selalu ada untuk anak2. Mungkin mmg sbeuha keputusan yg g gampang, tp aQ g mau nyerah sblm aQ mencobanya, namun, pd akhirnya aQ sdrm suatu hr nanti aQ hanya akan berada di rumah untuk suami dan anak2Q…aQ hanya ingin kerja bbrp saat, dan mencoba untuk ncr peluang aja.. klo bs Qjalani keduanya nanti, akan aQ lakoni terus, tp bila tidak, aQ akan milih untuk jd ibu rmh tgg sejati aja..hehe walau gmn pun, anak2 dan suami itu yg terpenting…heheaQ ngomong gini, kayak aQ udah berumah tangga aja..hahaha

    Hebat,dhek. Aku yakin kamu kelak juga bisa jadi SUPERMOM seperti Bu Enny

  6. Yuyun says:

    aku yakin dirimu bisa jadi Supermom juga Ret.. ;)

    Thx ya Yun. :)

  7. omiyan says:

    asal jangan jadi ortu 15 menit, sesibuk apapun kita sabtu minggu adalah waktunya buat anak……dan ketika abis pulang kerja setidaknya selalu bermain dulu dengan mereka….duh jadi inget bunga semalam kirain jam 9 malam dah ngantuk ta pindahin ke kamar ga tahunya malah ngajaka main sampe jam 11….pas dia tidur sayanya yang ga bisa tidur sampai jam 1…..

    :) Ya mas saya juga ga pengen jadi ortu menitan :)

  8. hilal achmad says:

    hayo hayo .. jadi ibu yang superhebat :)

    Yuk mari :)

  9. Jefry Austin says:

    Saya telah membaca karya kamu. semua bagus. Tampaknya kita memiliki aliran dan semangat tulis yang mirip. Oleh karena itu saya ingin agar kita saling berkunjung blog.

    Kami akan menyajikan mater-materi kami untuk menyambut anda. kami mengundang anda. Di blog saya selain ada refelksi, juga terdapat banyak hal di sana. Mari kita saling memperkaya pengetahuan dan pengalaman.

    Selamat datang. Kami menunggu anda.

    waduh aliran :) tulisan saya masih biasa aja koq, banyak yang lebih bagus dari saya dan bahkan sudah ada yang menerbitkan buku seperti salah satu teman saya Jeunglala dan ada lagi yang benar-benar sudah jadi penulis seperti Bunda Tutinonka
    Terima kasih sudah berkunjung. :P dan terima kasih juga pujiannya, jangan lupa kasih kritik juga ya biar saya bisa memperbaikan blog saya ini dan bisa jadi lebih bagus lagi :P

  10. noto says:

    wah, ternyata ini blognya orang yang pandai cerita ya

    :P saya hanya mengungkapkan apa yang saya rasakan

  11. imelda says:

    kwalitas itu memang penting, tapi bagi saya pribadi menyukai luangkan banyak waktu untuk anak-anak saya, saya sangat menyesal sekali saat anak pertama saya jadi “anak pembantu”, persis spt ceritanya dik reti, hanay saja dia masih kecil. padahal sabtu minggu saya tetap luangkan waktu (kwalitas waktu tetap sy jaga dengan baik).

    tapi tetap saja hasilnya tidak spt yg saya harapkan, sehari2 dia tetap lebih dekat dengan pembantu dibanding saya :( so bad… itu sangat mencabik2 hati saya… sungguh… berbahagialah anda yg tidak mengalaminya…

    sy lalu berjanji dalam hati akan habiskan waktu saya utk orang2 yg saya sayangi, saya ingin sekali yg pertama kali mendengar “kata pertama” dari anak saya, saya jg ingin memberikan ASI ekslusif jk saya punya anak lg (saat itu baru 1), sy jg tidak ingin masih berkutat pekerjaan dikantor saat disaat yg sama anak sy butuh perhatian saya… sy lebih banyak waktu utk perusahaan & bos dibanding anak saya… quality time? bgmpun juga kwantitas sangat penting bagi sy, pernah anda alami anak sakit parah disaat anda sedang dinas berhari2 diluar kota/ luar negeri? atau anak merengek kangen sama ibunya saat ibuay masih sibuk meeting? quality time tidak dapat melakukannya! trust me!

    saya memutuskan meninggalkan pekerjaan saya sbg salah 1 manager senior di sebuah perusahaan manufacturing terkenal di jkt yg iklannya bertubi2 di TV, dan akhirnya memutuskan bisnis online dirumah dan saya sungguh sangat menikmatinya, saya tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya, saya dpt sambil memantau anak-anak tiap hari tiap waktu (anak sy skg sudah 3), memberikan yg terbaik yang bisa saya berikan, saya tidak pernah tahu kapan Tuhan memberi saya “waktu” jadi bagi saya pribadi waktu begitu berharganya utk orang2 yg saya sayangi & itu amatlah sangat penting bagi saya…

    oleh karena itu tulisan di blog dik reti ini benar2 membuat saya semakin “sadar” artinya waktu utk keluarga, anak & suami tercinta… tidak sekedar quality time….

    :P terima kasih kak Imelda atas sharing pengalaman kakak. salam kenal dari saya ya dan thx udah berkunjung. :)

  12. tutinonka says:

    Dari contoh Bu Edratna dan Mbak Imelda, terlihat bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda, berada pada situasi yang berbeda, dan meyakini prinsip yang berbeda pula. Tentu saja kedua-duanya syah. Yang penting, bagaimana kita bisa menjalani hidup kita dengan bahagia, puas, dan memberikan hasil yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai.

    Ya bunda, semoga dengan 2 contoh tersebut bisa menuntun saya benar-benar jadi ibu yang baik ya, bunda :P

  13. nh18 says:

    Hah …
    Buku harian Maya itu …
    Kata-kata itu …
    hhhhh ….

    Memang waktu dengan anak itu … banyak yang bilang … bukan kuantitas … tetapi kualitas …

    dan celakanya kualitas seperti apa yang sang anak mau …
    juga … sampai seberapa kuantitas yang disebut “minimum requirement” itu
    no body knows … karena jadi orang tua tidak ada sekolahannya …

    So jalani saja …
    Curahkan perhatian pada Anak …
    Seberapa singkatnya waktu itu …
    Yang penting dari Hati …
    I think they know kok …
    I think …

    Ya om jadi ortu tuch emang ga ada sekolahnya tapi dengan kenal Bu Edratna, kak Imelda, Bunda Tuti, Om trainer dan yang lainnya bisa jadi tambah pengetahuan. :)

  14. Ikkyu_san says:

    Waaah namaku disebut (Jadi ingat lagu “Di doa ibuku namaku disebut!”).
    aku mah bukan wanita karir tuh…kerjaanku serabutan semua kok.
    malah banyakan kerja di rumah.

    DAN

    jangan dipikir kerja di rumah juga punya waktu dengan anak-anak loh. Malah bisa-bisa stress pekerjaan kita tunjukkan di depan anak-anak dengan stress, kesal, bentak-bentak dsb. Ada teman saya seorang dosen terkenal, dia bercerita bahwa anaknya manis sekali menunggui dia di kamar kerjanya di rumah. Tapi…. akhirnya saya dengar dia bercerai dengan suaminya. SULIT … semua nya sulit… untuk menjaga balance itu sulit. Saling mengingatkan dengan tulisan-tulisan di email, ambil libur atau memanfaatkan waktu yang sedikit untuk bermain bersama…. dsb dsb. Semoga kita “blogger wanita” bisa saling melengkapi ya Ret. (Bikin paguyuban blogger wanita yuuuk hihihi)

    Oh ya ntar tgl 23 Feb bisa ketemuan ngga Ret… di jkt dengan jeunglala (daerah sudirman lah) . kasih kabar ya Ret…

    EM
    bener kata mas trainer, ngga ada sekolahnya. Biar dibuat sekolahnya pun bisa bisa ngga lulus semua heheheh.

    Bener nich kayaknya usul Tante perlu sekali dipertimbangkan, membuat paguyuban blogger wanita :D yang pasti kita bisa saling melengkapi. :P Wahhh mau kopdar ya… sampai saat ini sich tgl 23 Feb aku belum ada acara kemana - mana tante. Daerah sudirman?? ga kurang jauh ya tante? Oke beberapa hari kedepan aku mau jadi istri yang baik dulu ya tante biar suamiku mau nganterin :P

  15. babe says:

    Jika cinta, maka bekerjalah agar mampu mencipta karya luhur keluarga.
    Jika setia, maka sujudlah dan syukuri nikmat Tuhan.
    Jika ingin cinta & kesetiaan, maka rangkai karya luhur dan sujud yang akan mempertebal cinta dan kesetiaanmu kepada keluarga karena Tuhan pemilik cinta dan kesetiaan yang abadi.

    Itulah sederet kata nasehat ibu saya ketika saya menikah dan sampai saat ini sering saya tulis ulang di kertas untuk mencari makna nasehat itu sesuai kondisi saya pada saat itu. Silakan jika ada yang berkenan berbagi mengartikan sederet kata nasehat ini dengan contoh keadaan nyata dalam kehidupan kita.

    Ibu alm. Maya, ternyata menjadi satu-satunya orang di keluarga itu yang harus menyediakan biaya bagi perawatan Doni & ayahnya. Apakah dia bisa berhenti bekerja begitu saja? atau mungkin tabungannya sudah cukup untuk biaya hidup sampai turunan ketiga?

    Salam sukses & perkasa untuk Retie.

    mmm ntar aku telpon babe aja langsung ya hehehehe :D waduhh pake salam perkasa segala… yayayaya

  16. p3ny0 says:

    hmmm… supermom..?? knp ga ada superpap ya..?? :-/

    pdhl biasanya cowo’ yg lebih “ngoyo” cari duit dlm rumah tangga..
    tp kok ga ada gelar yaa…?? wah.. benar2 “pahlawan tanpa tanda jasa” ni …

    salam kenal ya mbak.. ikut mendoakan jg, smoga bisa menjadi SUPERMOM.. ;)
    Rekan p3ny0 terakhir menulis tentang : Dukungan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv Enabled