Dec
27

“Sudah bangun kah”

“nduk, hari ini ga belanja?”

“makan soto di kelapa gading yuk,nduk”

Itu beberapa pesan singkat (SMS) yang sering aku terima di ponselku dari Om Bontot. Yah Om Edhie Prahasto, adik bungsu babe. Kebetulan rumahnya om dekat dengan rumahku. Sejak aku pindah ke Bekasi, om sering berkunjung ke rumahku hanya sekedar nemenin makan siang, numpang online atau sekedar ngopi dan ngobrol santai. Hal tersebut sering dilakukan sejak aku hamil dan setelah aku melahirkan.

Tiga tahun lebih hidup lebih dekat dengan om membuat aku semakin mengenal om. Om tuch ngga sabaran, Om itu suka bandel kalau di kasih tahu untuk jaga kesehatan, Om itu sayang banget sama keluarganya, Om itu pantang menyerah dalam bisnis online, Om itu sayang banget sama Mozael anakku……

8 November 2011 Om Bontot ke Surabaya menggendari mobilku bersama kakak tertua om Bontot, Pakde Bambang dan kakak nomer 3, Bude Dini. Dan Puji Tuhan, tanggal 9 November malam om tiba di Surabaya dengan selamat bahkan sempat bikin status di facebooknya.

Tapi, sejak Om sampai di Surabaya kondisinya drop. Karena terlalu lelah setir dan sebelum berangkat Om sudah sempat sakit. Tujuan awal Om ke Surabaya adalah menghadiri pernikahan adik cowokku. Karena kondisinya drop babe tidak mengijinkan om mengikuti acara.

¬†Beberapa saat sebelum berangkat ke salon, aku sempat memeluk om sambil mengelus dadanya dan berkata “atine sing tenang,om. Ora usah mikir macem-macem. Tersenyumlah karena saudara-saudara om berkumpul. Om ngga bisa dateng tapi om bisa bantu doa untuk Radix.

Om tak menjawab hanya mengangguk dan aku melihat dia pun sedih karena tidak bisa hadir.

Karena kesibukanku menyelesaikan segala keperluan pesta tanggal 13 November, aku tidak memantau kondisi om. Sampai akhirnya tengah malam, Om merasa dadanya makin sesak.  Tanpa berpikir panjang, aku dan adik cowokku Radix meluncur ke rumah sakit swasta yang kebetulan dekat rumahku.

Di rumah sakit tersebut om mengaku napasnya lega karena mendapat bantuan dari tabung oksigen. Dari hasil Rontgen, om harus masuk ICU. Di rumah sakit tersebut ICU sudah penuh dan akhirnya dengan ambulance om di bawa ke rumah sakit lainnya. Melalui prosedur yang ada, om harus diperiksa ulang. Dari jam 2 pagi hingga jam 6 pagi kondisi om tidak sebaik di rumah sakit sebelumnya. Karena tidak tega melihat kondisi om dan kebetulan rumah sakit tersebut kehabisan kamar, om harus pindah ke rumah sakit di seberang rumah sakit kedua. Di rumah sakit ketiga ini om bisa masuk langsung ke kamar perawatan biasa dengan tabung oksigen. Saat itu aku hanya bisa berucap “Puji Tuhan, om tidak perlu masuk ICU

Kembali karena kesibukanku di acara pesta adikku dan aku berpikir om sudah berada di tempat perawatan yang tepat, aku lupa sejenak dengan om. Setelah semuanya selesai, baru aku bersama keluarga besar ke rumah sakit tempat om di rawat. Betapa senangnya hatiku saat itu melihat om bisa duduk dengan kondisi santai meski masih memakai oksigen. Tapi satu yang bikin aku gemes, om masih bandel ngga mau makan. Sampai-sampai aku bilang “yahh om, rugi ga mau makan. nih makanan enak lhooo…lihat donk rumah sakitnya aja bagus kayak gini

Karena aku harus segera pulang ke Jakarta dan aku beranggapan akan bertemu dengan om kembali di Jakarta, aku ngga pamit secara khusus ke om. Pulang dari RS pun aku cuma pamit ke om “aku pulang ya om… segera sehat yaa….” Tapi anehnya saat pamit aku tidak melihat ke arah Om. Aku merasa jika aku melihat om pasti aku menangis.

Sampai di Jakarta, aku masih terus memantau lewat putrinya Om, Melani. Kondisi om tidak juga membaik, napasnya terasa sesak. Semua sudah dilakukan yang terbaik. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk memindahkan Om ke rumah sakit yang lain.

Sesampainya di UGD, Om yang tadinya dibantu oksigen tiba-tiba mengalami sesak napas dan langsung om pergi….. :(

Yah…hari ini 41 hari yang lalu, om pergi tanpa pamit ke aku. Aku hanya bisa mengenangnya sambil berdoa semoga om mendapat tempat yang layak di sana dan di ampuni semua dosa-dosanya. Amin.

Natal tahun lalu, om jadi “om & eyang siaga” karena aku hamil dan sudah mendekati melahirkan, om siap antar aku ke RS. Natal tahun ini, hanya foto om yang bersanding di samping pohon natal.

Category: Diaryku  Tags: , , , ,
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
7 Responses
  1. nique says:

    sedih ya mba jika seseorang yang sangat berarti bagi hidup kita pergi tanpa pesan
    begitulah sebuah kekuatan hati diuji
    semoga mba diberi kekuatan, toh Om sudah tenang juga di sana ‘kan!

  2. bloqaditaaz says:

    emang sedih banget kehilangan orang yang kita cintai , sabar ya mbak.

  3. ded says:

    Terharu Mb, membacanya. Semoga arwah beliau di terima disisiNya. Amiinnn

  4. Sriyono Suke says:

    wa,
    Selamat jalan om,
    Semoga tempat yang lebih baik di sana,
    Salam,

  5. menclok…. clok!
    ;p

  6. [...] pada sore/malam hari karena harus keluar dengan Moza berdua saja. Tahun lalu, dia datang bersama om-nya ke acara kopdar Pasaraya. Tapi Om-nya yang sudah akrab juga dengan kami sudah meninggal dunia, [...]

  7. parfum says:

    gak tau emang harus tiba2 kehilangan orang yang kita sayang di sekitar kita.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv Enabled