KASIH IBU (Baru)
Delapan tahun lalu, ibu kandungku meninggal karena pembuluh darah di otak pecah. Pada saat itu usiaku baru 16 tahun. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ibuku masih hidup, aku tumbuh jadi gadis yang tidak pernah turut campur pekerjaan rumah tangga. Yang aku tahu hanya makan, tidur dan sekolah.
Setahun setelah ibuku meninggal, pembantu rumah tangga yang sudah bertahun – tahun bekerja pada keluargaku harus pulang kampung. Semua kerumitan berawal sejak itu. Aku tidak pernah tahu bagaimana cara masak nasi, Yang aku tahu hanya masak mie instan dan goreng telur hanya untuk diriku sendiri. Urusan dapur harus kini harus jadi tanggung jawabku karena kedua adik masih kecil. Ayahku juga mulai membagi masalah keuangan rumah tangga karena dulu ibulah yang mengurusinya.
Ketika aku berusia 17 tahun, semua urusan rumah tangga harus aku pegang. Di saat teman – teman bersenang – senang pulang sekolah, aku harus segera pulang dan masak nasi untuk makan siang bersama kedua adikku.
Aku harus melalui masa – masa sulit seorang diri, menempuh ujian akhir SMA pun aku hadapi sendiri. Teman – temanku bisa bercerita kalau saat mereka berangkat ujian, mama mereka membuat roti bakar dan menemani mereka belajar. Sedangkan aku…?
Ternyata Tuhan sangat mencintaiku, Tuhan lindungi dan kuatkan aku. Aku lulus walaupun tidak masuk peringat. Itu pun sudah membuat ayahku bangga.
Enam tahun berlalu, ayahku masih tetap hidup seorang diri. Tapi bulan Mei dua tahun lalu, tiba – tiba ayah memperkenalkan seorang wanita yang usianya 20 tahun lebih muda dari ayahku dan pantas jadi kakakku. Ayah memutuskan untuk menikah lagi. Kami bertiga sempat protes dan tidak menerima kenyataan ini. Kami menghadiri acara pernikahan setengah hati dan menangis kecewa.
Satu minggu kemudian, ayah mengajak kami bertiga berlibur ke daerah Batu, Malang. Di sana ayah mencoba memberikan pengertian kepada kami bertiga, dan dari liburan tersebut muncul sebutan untuk istri ayah, “umi”. Umi tidak hanya sebagai ibu tapi juga kakak bagi kami bertiga. Beberapa bulan berlalu, ternyata kami mulai mencintai umi. Begitu juga dengan umi, apalagi saat adikku sakit demam berdarah. Siang-malam umi menjaga adikku sampai – sampai umi hampir sakit karena tidak bisa tidur. Akupun kembali merasakan kasih ibu yang sempat hilang bila setiap malam umi masuk ke kamarku dan membetulkan selimutku serta mencium keningku.
Aku kembali merasakan kenangan terindah dalam hidupku, saat tahun lalu kami sekeluarga mengadakan perjalanan liburan keliling Jawa – Bali. Dalam perjalanan itu, kami pun semakin mengenal kepribadian umi. Acara bakar ikan di pinggir pantai jadi acara paling seru.
Saat ini usiaku hampir 25 tahun, aku sudah mendapat banyak ilmu tentang rumah tangga dan sedang menanti hari bahagiaku di pelaminan. Walau cintaku pada ibu kandungku akan terus ada, ternyata aku bisa berbagi dan mendapat kasih dari ibu baruku…
Komentar terakhir